Kejar Target Bebas Covid pada 2022, Pemerintah Targetkan 12 Bulan

Kejar Target Bebas Covid pada 2022, Pemerintah Targetkan 12 Bulan

Terbaiknews - Sejumlah tenaga kesehatan mengikuti vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora SenayanJakartaKamis (4/2/2021). Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar vaksinasi dengan menargetkan 6.000 orang tenaga kesehatan yang bertugas pada fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta di DKI Jakarta.  (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

– Kementerian Kesehatan (Kemenkes) optimis Indonesia, pada 2022 Indonesia bisa terbebas dari Covid-19. Salah satu upaya yang saat ini sedang dikebut adalah program vaksinasi.

Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, lebih dari 900 ribu tenaga kesehatan sudah terdata untuk divaksin Covid-19. Dari jumlah itu, sekitar 750 ribu tenaga kesehatan sudah divaksin.

“Kita masih sampai Februari ya untuk vaksinasi ini. Tentunya masih cukup waktu untuk kita menyelesaikan dan masih on the track,” kata Siti Nadia Tarmidzi kepada wartawan, Senin (8/2).

Pemerintah optimis vaksinasi kepada tenaga kesehatan akan berjalan sesuai rencana karena tidak ada yang menolak. Banyaknya tokoh masyarakat yang bersedia divaksin juga memudahkan pelaksanaan vaksin.

“Jadi kita cukup optimis karena hampir seluruh masyarakat mau membantu kita melaksanakan vaksinasi,” tuturnya.

Karena itu, Siti tidak sepakat dengan prediksi Bloomberg bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia baru akan berakhir 10 tahun lagi, kalau melihat jumlah orang yang divaksin setiap hari.

“Kita itu roadmapnya 15 bulan. Bahkan, kalau bisa kita optimalkan menjadi 12 bulan sesuai arahan bapak Presiden,” ujar Siti.

Siti juga menuturkan, target tenaga kesehatan yang divaksin hingga akhir Februari 2021 sebanyak 1,5 juta. Target berikutnya sebanyak 17,4 juta tenaga kesehatan.

“Selain terkait target, juga kapan ketersediaan vaksinnya. Kami juga melakukan berbagai akselarasi untuk meningkatkan kemampuan melakukan vaksinasi masyarakat. Jadi tidak bisa dinilai secara linear saja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, siti juga membeberkan upaya pemerintah mempercepat program vaksinasi. “Yang pertama, kami menambah vaksinator. Vaksinator saat ini 31 ribu, akhir Maret akan mencapai 81 ribu vaksinator tersebar,” katanya.

Selain vaksinator, fasilitas layanan kesehatan tempat vaksinasi akan ditambah. Saat ini, kata dia, ada sekitar 11 ribuan fasilitas layanan kesehatan rumah sakit, klinik, puskesmas dan kantor kesehatan pelabuhan yang menjadi tempat pelayanan vaksinasi.

“Ini akan ditambah karena kita masih punya sekitar 10 ribu lagi fasilitas layanan kesehatan yang bisa dioptimalkan. Upaya kedua adalah melakukan vaksinasi secara terpusat atau massal. Selain adanya vaksin gotong-royong itu juga akan mempercepat perluasan dan target vaksinasi,” jelasnya.

Sedangkan untuk mengatasi persoalan data penerima vaksin, Kemenkes mengombinasikan pendaftaran vaksin secara online dan manual. Kemenkes menunggu data secara berjenjang dari mulai tingkat puskesmas, dinas kesehatan kota/kabupaten serta provinsi hingga ke tingkat pusat.

“Untuk mempermudah pelayanan vaksinasi kita membuka aksesnya, sehingga orang bisa datang dengan membawa KTP, menyebutkan nomor induk, ditambah dengan STR (surat tanda registrasi) dia sudah bisa mendapatkan pelayanan vaksinasi,” katanya.

Menurutnya, vaksin Sinovac sudah tiba di Indonesia secara bertahap, 1,2 juta, kemudian 1,8 juta. Sebanyak 15 juta masih dalam bentuk setengah jadi yang saat ini menunggu izin dari BPOM.

“Kita juga baru datang 10 juta dosis ya yang akan diubah jadi vaksin di Bio Farma. Kita juga sudah punya jadwal kedatangan vaksin Sinovac lagi di akhir Februari,” ujarnya.

COVID-19 Detais Indonesia