PSBB dan Pajak, Daihatsu Deg-degan Jual Mobil pada September

PSBB dan Pajak, Daihatsu Deg-degan Jual Mobil pada September

Terbaiknews - JakartaCNN Indonesia -- Astra Daihatsu Motor (ADM) menilai September merupakan bulan menegangkan...

Jakarta, CNN Indonesia --

Astra Daihatsu Motor (ADM) menilai September merupakan bulan menegangkan sepanjang tahun ini. Alasannya, pada September perusahaan dihadapkan pada dua isu yang berpotensi menyusutkan penjualan mobil.

Isu pertama yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid dua yang kembali berlaku di Jakarta. Kebijakan tersebut berpotensi mempengaruhi penjualan sebab aktivitas perusahaan dan dealer dibatasi.


Hal ini berkaca pada kebijakan yang sama pada jilid pertama sejak April dan kemudian dibuka kembali pada Juni. Pada periode tersebut penjualan mobil Daihatsu langsung anjlok dan naik lagi sejak PSBB diubah menjadi transisi.


"Jadi Juni sampai Agustus [PSBB dibuka] itu penjualan sudah mulai naik, tapi September ada PSBB lagi. Itu pertama dan pertanyaannya [penjualan] September naik tidak ya," kata Marketing and CR Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Hendrayadi Lastiyoso dalam diskusi virtual, pada Kamis (15/10).

Isu selanjutnya usulan pemerintah mengenai pajak nol persen bagi mobil baru yang tak kunjung terealisasi, bahkan hingga kini terkesan menggantung. Jika diberlakukan harga mobil baru bakal semakin murah.

Status menggantung itu yang mengkhawatirkan, sebab ditakutkan konsumen menunda pembelian lantaran menunggu diterapkan.

"Itu isu baru lagi. Jadi September ada dua yang bikin deg-degan, itu ntar naik tidak ya. Nah September hari demi hari, pasti nanya naik atau tidak ya," katanya.

Namun berdasarkan data penjualan Daihatsu pada bulan kemarin penjualan ternyata naik. Kata Hendrayadi kenaikan penjualan tidak hanya terasa pada Daihatsu sebesar 22 persen, tetap juga pasar mobil nasional mencapai 15 persen.

"Jadi meski ada dua isu besar, faktanya market tetap naik," kata dia.

Sementara itu Direktur Marketing ADM Amelia Tjandra tak dapat memastikan seberapa besar dampak dari isu relaksasi pajak terhadap penjualan mobil.

"Kalau pertanyaan ada dampak atau enggak, kemungkinan ada, tapi hasilnya pasar tetap naik. Kalau tidak ada isu mungkin bisa lebih besar, tapi tetap kami tidak bisa ngitungnya," kata Amelia.

(ryh/fea)
[Gambas:Video CNN]

COVID-19 Detais Indonesia