Studi: Bermain Video Game Meningkatkan Perasaan Bahagia

Studi: Bermain Video Game Meningkatkan Perasaan Bahagia

Terbaiknews - KOMPAS.com - Sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas OxfordInggrismenemukan...

KOMPAS.com - Sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas Oxford, Inggris, menemukan bahwa bermain game dalam durasi waktu yang lama ternyata mampu memberikan pengaruh positif terhadap perasaan sejahtera atau bahagia (wellbeing) seseorang.

Dipimpin oleh Profesor Andrew Przybylski, studi tersebut dilakukan dengan dua judul game dalam kategori semua umur, yakni Animal Crossing: New Horizonsdan Plant vs Zombies Battle for Neighborville.

Studi ini mengandalkan data survey yang melibatkan 3.724 peserta dari kalangangamer berumur di atas 18 tahun. Ribuan peserta diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan mengenai pengalaman mereka saat bermain game.

Mengenal Animal Crossing: New Horizons, Game Populer di Tengah Pandemi Covid-19

Data tersebut kemudian dikaitkan dengan data durasi bermain game yang dimiliki setiap peserta. Para peneliti mendapatkan data yang dibutuhkan (secara anonim) langsung dari pihak Nintendo dan Electronic Arts.

Nintendo menyediakan data durasi waktu bermain game Animal Crossing: New Horizons, sementara Electronic Arts menyerahkan data kinerja pemain Plant vs Zombies Battle for Neighborville.

Adapun data kinerja yang dimaksud meliputi data pencapaian (achievement) yang telah diraih serta emoji yang digunakan peserta untuk mengekspresikan diri di dalam game.

Cenderung lebih bahagia

Hasilnya, Przybylski menyimpulkan bahwa peserta yang bermain game Animal Crossing selama minimal empat jam setiap harinya, cenderung merasa lebih bahagia dibanding para peserta lainnya.

"Namun itu tidak berarti (dengan bermain) Animal Crossing saja bisa serta-merta membuat bahagia," kata Przybylski sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BBC, Kamis (19/11/2020).

Przybylski turut membandingkan studi yang dilakukan oleh timnya dengan penelitian-penelitian terdahulu. Walhasil, studi tersebut bertentangan dengan sebuah riset yang telah dilakukan selama 40 tahun terakhir.

COVID-19 Detais Indonesia