Petani Rumput Laut di NTT Merugi Akibat Pembangunan Jetty PLTU Timor 1

Petani Rumput Laut di NTT Merugi Akibat Pembangunan Jetty PLTU Timor 1

Terbaiknews - Petani RumputLaut di NTT Merugi Akibat PembangunanJettyPLTUTimor1POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Para...

Petani RumputLaut di NTT Merugi Akibat PembangunanJettyPLTUTimor1

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Para petani rumput laut di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku merugi.

Pasalnya, produksi dan kualitas rumput laut mereka menurun usai terkena dampak pembangunan dermaga tanah atau jetty di sekitar lokasi budidaya rumput laut.

Hal tersebut diungkapkan salah satu petani rumput laut, Matheos Laka kepada wartawan pada Rabu (24/6) siang.

Pria yang juga merupakan sekretaris kelompok budidaya rumput laut Desa Lifuleo ini mengaku, sejak pembangunan dermaga tanah yang tak jauh dari lokasi budidaya, kualitas rumput laut mereka menurun drastis.

Rumput laut yang mereka budidayakan tidak bisa berkembang maksimal sebagaimana biasa akibat lumpur dari pembangunan Jetty tersebut. Rumput laut yang mereka budidayakan bahkan bisa noe (mengecil dan menyusut ukurannya) apabila tidak segera dipanen saat berusia tiga pekan. Padahal, idealnya, masa panen rumput laut biasanya dilakukan setiap lima hingga enam pekan.

Tak hanya itu, jika biasanya rumput laut yang mereka budidayakan pada tiga tali bisa memenuhi satu para-para (bale bale untuk jemur) ukuran 50x8 meter, maka sejak pembangunan Jetty tersebut, satu para-para baru bisa dipenuhi oleh rumput laut dari 11 tali.

Selain itu, penampang rumput laut yang biasanya hijau segar juga berubah karena dilekati oleh pasir atau lumpur putih. Bahkan mereka harus mencucinya berulang ulang setiap periode penjemuran untuk menghilangkan lumpur yang menempeli rumput laut.

"Yang ini baru jalan 3 minggu. Kalau tidak paksa kas keluar dari tali maka ilang semua, noe. Jadi terpaksa kodisi begini kita panen sa," ujar Matheos sambil menunjuk hamparan rumput laut yang tampak tidak begitu sehat.

Ia mengaku, biasanya setiap kali penen pertama ia bisa mendapat pemasukan dari penjualan rumput laut hingga Rp 5 juta, namun kini tidak sampai setengahnya. Apalagi dengan kualitas yang tidak memadai, harga per kilogram juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

COVID-19 Detais Indonesia