Melebur di Jogjakarta (Part 3)

Melebur di Jogjakarta (Part 3)

Terbaiknews - Cabut meninggalkan kota Udang Cirebonroda besi kereta melaju dengan cepat. Seperti biasa alam di...

Cabut meninggalkan kota Udang Cirebon, roda besi kereta melaju dengan cepat. Seperti biasa alam di pulau Jawa sangat indah sekali. Berbaris rapih corak ciptaan Tuhan Yang Esa. Aku menikmatinya dalam pandangan yang berbunga-bunga.

Lahan padi terbentang luas, saya pun berucap syukur yang mendalam atas anugerah yang diberika. Keindahan negeri ini jangan sampai tercoreng oleh proyek bangunan yang menyengsarakan. Saya sangat berharap demikian agar tidam terjadi dikemudian hari. Melewati beberapa stasiun yang tidak kami singgahi, bang Oki selalu terdepan dalam mengkoordinir perut kami agar tidak kelaparan. Ia bergegas memanggil awak kabin kereta yang berjualan untuk memesan makan kami.

Dibawakannya buku menu dan pena. Bertugas untuk mencatat apa yangbakan kami pesan. Banyak diantara kami memesan nasi goreng dan es teh manis. Tampilan menu tersebut sangat menggugah selera makan kami. Kami pun memesannya.

Sambil menunggu pesannya datang, dikeluarkanlah Aipad milik Bani. Dede Reno, Yasmin, bang Bahtiar dan Bani, mereka berempat kemudian tidak menyiakan waktu menunggu pesanan tersebut demgan bermain Ludo yang ada di Aipad milik Bani. Bersorak akibat lucunya dede Reno yang dikalahkan sebanyak 4 kali oleh Yasmin. Dari sorakan itu dede Reno akhirnya kesal dan memilih berhenti.

Permainan selesai, Bani lalu menutupnmata sedikit. Bang Bahtiar juga memilih bercerita dengan anak dan istrinya di bangku sebelah. Sementara dede Reno dan Yasmin kembali ke pangkuan orang tuannya di bangku depan.

Taraa... makanan kami telah tiba dibawakan petugas kereta. Bang Oki mengawal mereka untuk memastikan agara pesanan bila dibagikan tidam keliru. Kami menerimanya dan langsung membuka nasi goreng dalam kota makan tersebut.

"Tuh kan. Apa kata guwah, digambarnya aja yang keren tali pada faktanya biasanya rasanya," kata bang Indra yang duduk seorang diri dibangku belakang saya.Â

Kesal, namun apa mau dikata. Perut sudah ribut dari tadi. Makan aja deh yang penting kenyang. Rugi juga kan kalau tidak dimakan, sudah bayar mahal lagi," tutur bang Indra lagi.

Tak lama kemudian kereta kami tiba di stasiun Tugu Jogjakarta pada pukul 3 sorean lewat, hampir jam 4 lah. Menurungkan barang bawaan jami dari bagasi dan keluar ke depan stasiun.

Theo, selaku staf peneliti Setara keluar lebih awal untuk bernegosiasi dengan sopir Taxi yang sedang parkir tepat di depan pintu keluar. Karena Theo adalah asli orang Jogja, bahasa negosiasi yang dipakai adalah bahasa Jawa. Kami tidak mengerti tapi yang jelas dugaan kami dia sedang berbicara masalah transaksi.Â

Hampir 10 menit kami menunggu hasil negosiasi yang dilakukan Theo, eh tak ada hasil. Katanya, mereka meminta lebih mahal. Ini jelas berbeda dengan harga normalnya. Mba Diah dan mba Dewi sudah cabut duluan memakai Taxi untuk memastikan Hotel tujuan kami yakni Hotel Amaris.

COVID-19 Detais Indonesia