Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, Orang Miskin Tambah Banyak

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, Orang Miskin Tambah Banyak

Terbaiknews - JakartaIDN Times – Tanggal 17 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Pemberantasan...

Jakarta, IDN Times – Tanggal 17 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia. Peringatan ini pertama kali diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1992.

Dilansir dari laman resmi PBB, tingkat perkembangan ekonomi, sarana teknologi, dan sumber daya keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, membuat jutaan orang hidup dalam kemiskinan.

PBB menulis, kemiskinan bukan semata-mata masalah ekonomi, melainkan fenomena multidimensi yang meliputi kurangnya pendapatan dan kemampuan dasar untuk hidup bermartabat.

Wabah COVID-19 yang melanda dunia hingga saat ini, membawa dampak buruk bagi pemberantasan kemiskinan secara global. Bank Dunia memprediksi, akibat COVID-19akan ada 88 juta hingga 115 juta orang yang masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem tahun ini, dan bisa meningkat menjadi 150 juta pada 2021.

1. Sejarah Hari Pemberantasan Kemisikinan Sedunia

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, Orang Miskin Tambah BanyakSeorang tunawisma tertidur di depan Taman Lapangan Banteng pada Sabtu, 8 Agustus 2020 (IDN Times/Besse Fadhilah)

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia awalnya lahir pada 17 Oktober 1987. Pelopornya adalah pendiri pergerakan internasional bergengsi ATD Fourth World, Pastor Joseph Wresinski.

Pada hari itu, lebih dari 100 ribu orang berkumpul di Trocadéro, Paris, untuk menghadiri Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang ditandatangani pada 1948, untuk menghormati para korban kemiskinan ekstrem, kekerasan, dan kelaparan. Mereka menyatakan bahwa kemiskinan adalah pelanggaran hak asasi manusia dan menegaskan perlunya bersatu untuk memastikan bahwa hak-hak ini dihormati.

Bentuk deklarasi itu terukir di batu peringatan yang diresmikan pada 17 Oktober 1987. Sejak saat itu, tiap orang dari berbagai latar belakang berkumpul setiap tahun pada 17 Oktober untuk memperbarui komitmen mereka, dan menunjukkan solidaritas mereka kepada orang miskin.

Salah satu replika batu peringatan tersebut terletak di taman Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan merupakan situs peringatan tahunan yang diselenggarakan oleh Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

2. Diresmikan oleh PBB sebagai hari internasional

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, Orang Miskin Tambah BanyakSuasana ruang sidang Dewan HAM PBB (Instagram/humanrightscouncil)

Melalui resolusi 47/196 yang diadopsi pada 22 Desember 1992, Sidang Umum PBB menyatakan 17 Oktober sebagai Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan, dan mengundang semua negara untuk mengabadikan hari itu untuk mempresentasikan dan mempromosikan, sesuai dengan konteks nasional, kegiatan konkret berkenaan dengan pemberantasan kemiskinan dan kemelaratan.

Resolusi tersebut selanjutnya mengundang organisasi antar pemerintah dan non-pemerintah untuk membantu negara dalam mengatur kegiatan nasional, untuk memperingati Hari Pemberantasan Kemisikinan Sedunia, dan meminta Sekretaris Jenderal PBB mengambil sumber daya yang ada dan langkah-langkah yang diperlukan, untuk memastikan keberhasilan peringatan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia.

3. Catatan kemiskinan di dunia oleh Bank Dunia

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, Orang Miskin Tambah BanyakANTARA FOTO/Istimewa

Berdasarkan laporan Bank Dunia yang dirilis pada 7 Oktober 2020, pandemik COVID-19 akan membuat bertambahnya orang miskin di dunia menjadi 88 juta hingga 115 juta orang. Angka ini diprediksi bertambah tahun depan menjadi 150 juta orang, tergantung pada tingkat keparahan kontraksi ekonomi.

“Pandemik dan resesi global dapat menyebabkan lebih dari 1,4 persen populasi dunia jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem,” kata Presiden Bank Dunia David Malpass.

Berdasarkan laporan dua tahunan Poverty and Shared Prosperity Bank Dunia, kemiskinan ektrem didefinisikan sebagai hidup dengan pengeluaran kurang dari 1,9 dolar AS per hari atau Rp28 ribu. Sebanyak 82 persen orang di negara berpenghasilan menengah, diperkirakan akan masuk ke kategori kemiskinan ekstrem.

Wabah COVID-19 diperkirakan akan mempengaruhi 9,1 hingga 9,4 persen dari populasi dunia di 2020. Padahal, jika tidak ada pandemik COVID-19, kemiskinan diperkirakan menurun 7,9 persen pada tahun ini.

Data kemiskinan global tahun 2017 menunjukkan bahwa 52 juta orang keluar dari kemiskinan antara 2015 dan 2017. Namun sayangnya, terjadi pelambatan penurunan tingkat kemiskinan di dunia. Pada rentang 2015-2017, tingkat penurunan kemiskinan hanya 0,5 persen per tahun. Padahal pada 1900 hingga 2015, tingkat kemiskinan berkurang satu persen per tahunnya.

Selain garis kemiskinan internasional 1,9 dolar AS per hari, Bank Dunia mengukur garis kemiskinan 3,2 dolar AS dan 5,5 dolar AS, yang mencerminkan garis kemiskinan nasional di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah dan menengah ke atas. Laporan tersebut selanjutnya mengukur kemiskinan di seluruh spektrum multidimensi yang mencakup akses ke pendidikan dan infrastruktur dasar.

Hasilnya, kurang dari sepersepuluh populasi dunia hidup dengan pengeluaran kurang dari 1,9 dolar AS per hari. Hampir seperempat populasi dunia dengan pengeluaran kurang dari 3,2 dolar AS (Rp47 ribu) per hari, dan lebih dari 40 persen populasi dunia atau hampir 3,3 miliar orang hidup dengan pengeluaran di bawah 5,5 dolar (Rp81 ribu ) per hari .

4. Data kemiskinan di Indonesia

Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia, Orang Miskin Tambah BanyakTuna wisma beraktivitas di GOR Tanah Abang, Jakarta, Minggu (26/4/2020) (ANTARA Foto/Galih Pradipta)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin dibandingkan September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin dibandingkan Maret 2019. Sehingga jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang dibandingkan September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang dibandingkan Maret 2019.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019 sebesar 6,56 persen, naik menjadi 7,38 persen pada Maret 2020. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar 12,60 persen, naik menjadi 12,82 persen pada Maret 2020.

Artinya, dibanding September 2019, jumlah penduduk miskin Maret 2020 di daerah perkotaan naik sebanyak 1,3 juta orang. Dari 9,86 juta orang pada September 2019 menjadi 11,16 juta orang pada Maret 2020. Sementara itu, daerah pedesaan naik sebanyak 333,9 ribu orang, dari 14,93 juta orang pada September 2019 menjadi 15,26 juta orang pada Maret 2020.

Sebagai catatan, garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652 per kapita per bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp335.793 (73,86 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp118.859 (26,14 persen).

Pada Maret 2020, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,66 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.118.678 per rumah tangga miskin per bulan.

Namun angka kemiskinan ini mendapat kritik dari Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani yang mengatakan, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 100 juta orang. Berdasarkan data yang dimiliki, pada 2019 ada hampir 100 juta orang di subsidi. Kedua, penetapan golongan fakir miskin yang dianggap tidak mampu berdasarkan Kepmensos, yaitu sumber penghasilan di bawah 600 ribu per bulan.

“Penerima bantuan jaminan kesehatan, iuran jaminan kesehatan ini angkanya 96,8 juta orang. Ini jelas-jelas masuk kelompok yang tidak mampu," katanya.

COVID-19 Detais Indonesia