Fenomena Anomali Pasar Terhadap Friday Effect

Fenomena Anomali Pasar Terhadap Friday Effect

Terbaiknews - "Ni Luh Sinar Suci Antari_Prodi Akuntansi FEB Unmas Denpasar"Dalam pasar modal yang efisien harga...

"Ni Luh Sinar Suci Antari_Prodi Akuntansi FEB Unmas Denpasar"

Dalam pasar modal yang efisien harga saham terus mengalami perubahan yang tiba - tiba dan cepat, sehingga tidak dapat dengan mudah diprediksi, dimana yang menyebabkan tidak seorang investor pun yang memperoleh return tidak normal (abnormal return). Menurut Hartono (2010) yang menyatakan bahwa sulit dalam pasar efisien untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dengan cara perdagangan berdasarkan informasi yang telah tersedia.

Namun saat ini ada banyak yang memperdebatkan mengenai keadaan pasar yang efisien sehingga menyebabkan banyak penelitian yang akhirnya mengungkapkan adanya penyimpangan terhadap hipotesis pasar efisien. Penyimpangan tersebut disebut dengan anomali pasar.

Anomali pasar itu sendiri adalah kejadian yang tidak dapat diantisipasi dan menyebabkan investor berpeluang untuk mendapatkan abnormal return. Return saham yang dimaksud adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas investasi saham yang dilakukan. Adanya anomali pasar mengindikasikan ditemukannya hal-hal atau keadaan yang tidak seharusnya ada jika memang pasar efisien benar-benar ada. Anomali pasar bisa saja membawa dampak yang buruk karena menyebabkan pasar modal tidak lagi menampilkan keadaan ekonomi yang sebenarnya. Namun fenomena anomali dapat digunakan oleh investor untuk mendapatkan abnormal return berdasarkan peristiwa atau informasi yang menyertainya.

Anomali pasar muncul sebagai fenomena di pasar modal akibat adanya perdebatan dan pertentangan mengenai kebenaran teori pasar efisien (Akbar,2009). Dalam pasar modal, fenomena anomali pasar menggambarkan keadaan pasar yang tidak efisien. Berikut ini adalah anomali pada setiap bentuk pasar efisien beserta pengujiannya :

  1. Pasar Efisiensi Bentuk Lemah : Anomali pada pasar efisiensi bentuk lemah adalah ketika harga saham saat ini dapat diprediksi dari harga saham masa lalu. Pengujian secara statistik ( uji larian dan uji korelasi serial) dapat dilakukan untuk menguji independensi atas perubahan-perubahan harga saham.
  2. Pasar Efisien Bentuk Setengah Kuat : Anomali pasar efisiensi bentuk setengah kuat adalah harga saham yang tidak mencerminkan informasi saat ini dan informasi historisnya. Pengujian pasar setengah kuat dapat dilakukan dengan uji kandungan informasi untuk mengetahui apakah suatu pengumuman mengandung informasi atau tidak serta pengujian atas kecepatan dan ketepatan reaksi pasar terhadap suatu informasi dan perubahan harga, yaitu dengan mengukur return dan abnormal return (Khajar,2008).
  3. Pasar Efisien bentuk Kuat : Anomali pasar efisiensi kuat adalah ketika ada private information yang didapatkan oleh investor. Pengujian atas pasar efisien kuat dapat dilakukan dengan pengujian private information dan membandingkan prestasi portofolio yang dikelola oleh kelompok yang mungkin mempunyai informasi khusus dengan pasar secara keseluruhan

Dalam teori keuangan, dikenal sedikitnya empat macam anomali pasar yaitu anomali perusahaan (firm anomalies), anomali musiman (seasonal anomalies), anomali peristiwa (event anomalies), dan anomali akuntansi (accounting anomalies). Anomali musiman muncul sangat tergantung pada waktu. Harga saham pada perusahaan yang berbasis musiman, seperti perusahaan perdagangan atau konveksi akan cenderung mengalami peningkatan pada hari-hari dimana musim sedang ramai. Ada beberapa anomali musiman yang sudah dikenal antara lain january effect, the day of week effect, monday effect, weekend effect, week four effect, the month of year effect, turn of the month effect, turn of the year effect, holiday effect, dan rogalski effect.

Banyak penelitian diluar maupun didalam negeri yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan return saham karena pengaruh hari perdagangan (Prasetyo,2006). Menurut Cahyaningdyah (2005) fenomena day of the week effect di BEI, dimana return terendah terjadi pada hari Senin (monday effect) dan return tertinggi pada hari Jumat (weekend effect) pada periode penelitian yaitu tahun 2001- 2003. Fenomena weekend effect disebut juga dengan friday effect untuk pasar saham hari terkahir dalam satu minggu perdagangannya adalah hari Jumat.

ÂSenin dianggap sebagai hari yang terburuk dibanding hari lain sepanjang minggu karena merupakan hari pertama kerja dan sebaliknya, Jumat adalah hari terbaik karena merupakan hari kerja terakhir sebelum hari libur. Ini mengakibatkan investor cenderung merasa pesimis di hari Senin dan optimis di hari Jumat. Kecenderungan perilaku kurang rasional ini membuat return Senin secara rata-rata menjadi negatif, faktor dari emiten yang mengumumkan berita-berita yang buruk pada hari terakhir perdagangan saham juga menjadikan return saham di hari Senin cenderung bersifat negatif. Investor akan segera menjual sahamnya dihari Senin ketika tahu mengenai berita buruk atas perusahaan. Hal ini termasuk sikap perilaku overreaction investor terhadap suatu informasi terkini. Kondisi ini juga tidak terlepas dari faktor psikologis karena secara psikologis investor akan bereaksi lebih dramatis (overreaction) terhadap informasi yang jelek.

Di pasar Wall Street, fenomena menjelang liburan akan semakin semarak. Pasalnya, setiap memasuki hari libur seringkali pasar saham di sana bergerak anomali. Seolah-olah ingin memberikan bekal uang saku bagi mereka yang akan berlibur, harga saham dan indeks harga saham di bursa Wall Street senantiasa bergerak naik cukup signifikan setiap kali akan memasuki hari libur besar seperti tahun baru, hari kemerdekaan (independen day), hari buruh (labour day) dan sebagainya. Begitu kerapnya fenomena ini berulang terjadi, hingga memunculkan sebuah istilah holiday effect atau efek liburan.

Fenomena ini menarik perhatian Prof Josef Lakonishok dari Univerisity of Illinois, Urbana Campaign dan Prof Seymour Smidt dari Cornell University, pakar investasi untuk melakukan sebuah penelitian. Melalui penelitian intensif dengan menggunakan data indeks Dow Jones (DJIA) dengan rentang waktu 90 tahun, keduanya sampai pada kesimpulan bahwa holiday effect merupakan anomali kedua setelah january effect. Namun, tidak dijelaskan dengan detil bagaimana fenomena seperti itu bisa terjadi.

Masih dalam konteks holiday effect, di Indonesia juga pernah ada satu penelitian tentang fenomena friday effect atau weekend effect. Namun, fenomena yang terjadi justru agak berlawanan dengan holiday effect. Fenomena weekend effect di bursa saham Indonesia memperlihatkan adanya kecenderungan terjadinya koreksi pasar.

VIDEO PILIHAN