Dalam Perenungan

Dalam Perenungan

Terbaiknews - Setiap orang pasti pernah melakukan perenungan dalam hidupnya. Mungkin sekalidua kaliatau...

Setiap orang pasti pernah melakukan perenungan dalam hidupnya. Mungkin sekali, dua kali, atau selebihnya. Perenungan itu pasti pernah dilakukan oleh semua orang yang sedang hidup maupun yang pernah hidup. Beberapa hari dalam minggu yang baru ini, saya senang melakukan perenungan. Tepatnya perenungan tentang hidup. Terkadang dalam perenungan yang saya lakukan, saya sedikit merasa bingung. Bingung dengan jalan kehidupan dan keputusan-keputusan yang telah saya buat. .Bimbang. Itu hal yang paling saya benci dari sebuah perenungan. Kadang kala setelah melakukan perenungan, akan timbul sebuah hasil, entah itu berupa kekuatan baru, atau yang paling tidak diinginkan adalah perenungan dengan hasil kebimbangan. Yang saya renungkan dalam beberapa hari ini, apakah sudah benar, langkah yang saya ambil untuk masa depan saya ? Jika pertanyaan diatas muncul, pikiran saya pun mulai berkecamuk. Saya belajar untuk berhenti mendengarkan pikiran dan membuat diri saya menjadi tuli dengan menghentikan pendengaran akan suara yang ada di luar sana, tetapi mulai belajar mendengarkan suara hati. "Mendengarkan suara hati !" Terdengar simple. Tetapi tidak se-simple itu. Suara hati adalah suara yang paling susah untuk saya dengarkan. Apakah orang lain juga merasakan hal yang sama dengan saya ? Kesusahan untuk mendengarkan suara hati ? Jalan yang saya pilih sekarang terlihat sedikit berat, walaupun saya tak tahu pasti, apakah jalannya akan berliku penuh tikungan atau mulus lurus tanpa hambatan setitik pun ? Yang jelas saya tak boleh mengeluh. Cukup menjalaninya dengan baik. Jalan yang saya pilih saat ini, membawa saya untuk melihat banyak tragedi. Tragedi yang berujung sangat menyakitkan sampai tragedi yang berujung dengan bahagia. Semua yang telah saya pilih membuat saya melihat benda-benda yang dulu pernah hidup mendadak berubah menjadi benda mati yang sudah kehilangan kehidupan sepenuhnya. Bukan hanya melihat benda hidup berubah menjadi benda mati saja, tetapi benda hidup yang terlihat setengah hidup, meringgis, tersiksa dalam belenggu yang menyekaratkan. Hal-hal diatas tadi membuat saya sedikit menyesal memilih jalan ini. Tetapi, disisi lain saya bersyukur kepada Tuhan. Iya, bersyukur kepada Tuhan, karena Dia sudah menghendaki saya untuk memilih jalan ini. Sehingga melalui pekerjaan ini, saya belajar untuk bersyukur bahwa saya masih diberi kehidupan yang luar biasa. Menjadi benda hidup sepenuhnya. Saya juga menyadari satu hal yang sangat berharga dalam perenungan saya, bahwa ternyata setiap orang memiliki perkara masing-masing yang akan diselesaikan dengan cara berbeda. Saat mereka ingin menyelesaikan perkara itu, Tuhan memberikan mereka pilihan. Menyelesaikan perkara tersebut dengan Dia. atau. Bertindak sendiri dengan cara manusia. Setiap manusia akan membuat pilihan yang berbeda. Saya akan memilih menyelesaikan setiap perkara dengan Dia yang berkuasa atas langit dan bumi. Sesudah melakukan perenungan yang cukup panjang dalam beberapa hari ini, saya memutusakan untuk menenangkan diri dari belenggu ketidaknyamanan. Hentah kenapa puisi dari sebuah pujangga yang selalu memberikan kesan "kalah dengan tenang dan tulus" dalam setiap helaan puisinya, mampu mengusir kepenatan yang sedang saya rasakan. Air Selokan (oleh : Sapardi Djoko Damono)

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi.ÂWaktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung

-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.


Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.


Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:

"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"

Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.




Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.Â

Â

VIDEO PILIHAN