Luhut Sebut Restorasi Terumbu Karang Seluas 50 Hektar Butuh Rp 115 Miliar

Luhut Sebut Restorasi Terumbu Karang Seluas 50 Hektar Butuh Rp 115 Miliar

Terbaiknews - KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan...

, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, Indonesia memiliki 18 persen dari total terumbu karang di dunia. Namun lebih dari 36 persen terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan.

Pemerintah telah menyusun program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) padat karya restorasi terumbu karang yang di pusatkan di Nusa Dua dan beberapa daerah kawasan lainnya seperti Sanur, Serangan, Pantai Pandawa dan Buleleng.

"Kegiatan ini akan melibatkan sampai 11.000 orang dengan restorasi terumbu karang seluas 50 hektar dan membutuhkan biaya sekitar Rp 115 miliar," ujar Luhut melalui keterangan tertulis, Kamis (24/9/2020).

Soal Penataan Ekosistem Logistik Nasional, Ini yang Dilakukan Kemenhub

Menurutnya, program tersebut merupakan kegiatan restorasi terbesar yang pernah ada di Tanah Air. Pemerintah berharap kegiatan padat karya restorasi ini dapat mengatasi kerusakan terumbu karang sekaligus memperbaiki wisata bahari di Bali yang menurun akibat Covid-19.

"Saya mengingatkan kembali agar dana PEN dapat disalurkan secara non tunai atau cashless, transparan, accountable dan sesuai dengan protokol Covid-19," kata dia.

Dengan kondisi kerusakan terumbu karang yang telah terjadi di Indonesia, Luhut meminta agar semua metode atau cara restorasi terumbu karang yang ada harus diterapkan dan dicoba di perairan Nusa Dua, Bali. Nantinya, Kawasan Nusa Dua menjadi pusat restorasi terumbu karang di Indonesia.

"Secara khusus, saya mengundang pemerintah Amerika dan NOAA untuk bekerja sama mewujudkan ICRG Nusa Dua, menjadi pusat restorasi terumbu karang dunia," ujarnya.

PT KAI Dapat Sertifikat Sistem Manajemen Anti Penyuapan

Lebih lanjut Luhut menjelaskan, kerusakan terumbu karang disebabkan beberapa hal yakni pencemaran laut, aktivitas perikanan yang tidak bersahabat dan pemanasan global yang mengakibatkan Coral Bleaching.

Menurut dia, rusaknya terumbu karang tidak selalu disebabkan oleh aktivitas manusia tetapi diperlukan pengelolaan sumber daya alam secara lestari yang melibatkan seluruh pihak, baik pemerintah maupun non pemerintah.

Luhut berpendapat, restorasi terumbu karang juga dijadikan salah satu solusi oleh pemerintah untuk membantu perekonomian masyarakat yang terimbas pandemi Covid-19.

Angkutan Logistik Terhantam Pandemi, Ini Kata Menhub

COVID-19 Detais Indonesia