Wawancara dengan Juara Dunia 3 Kali dan Pelatih PBSI Nova Widianto (1)

Wawancara dengan Juara Dunia 3 Kali dan Pelatih PBSI Nova Widianto (1)

Terbaiknews - Asisten pelatih ganda campuran Indonesia Nova Widianto. (PP PBSI)

JawaPos.com-Nova Widianto adalah nama besar dalam sejarah hebat ganda campuran Indonesia di pentas dunia. Bersama salah seorang pemain putri terdahsyat yang pernah kita miliki, Liliyana Natsir, Nova menjadi juara dunia pada 2005 dan 2007.

Pada 2006, Nova/Liliyana menjadi kampiun terakhir Badminton World Cup.
Sayang, di All England, Nova/Liliyana gagal meraih gelar. Dua kali tampil di final, dua kali pula mereka ditumbagkan oleh pasangan Tiongkok.

Pada Olimpiade Beijing 2008, Nova/Liliyana kembali â&;&;tidak beruntungâ&;&;. Menjadi unggulan pertama dan sangat dijagokan meraih emas, Nova/Liliyana tumbang di partai puncak. Secara mengejutkan, mereka dikandaskan pasangan muda dan nonunggulan asal Korea Selatan, Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung.

Ketika aktif bermain, Nova terkenal memiliki power besar, teknik tinggi, dan skill yang sangat istimewa. Karakter kuat, menjadikannya sebagai pemain kelas dunia yang amat disegani.

Setelah pensiun pada 2012, Nova kembali ke Pelatnas PP PBSI di Cipayung untuk menjadi asisten pelatih Richard Mainaky. Kombinasi Nova-Richard sukses menjaga tradisi ganda campuran sebagai salah satu sektor terkuat Indonesia.

Puncaknya terjadi pada 2016 di Rio de Janeiro. Untuk kali pertama, Indonesia sukses meraih emas ganda campuran Olimpiade. Bulan ini, Nova berhasil mendampingi Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti untuk berdiri di podium teratas turnamen bulu tangkis tertua dunia, All England 2020.

Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Nova menceritakan apa yang dia rasakan selama mengawal Praveen/Melati dan tim ganda campuran nasional. Baik di All England atapun Pelatnas PP PBSI Cipayung.

Pria asal Klaten ini juga membagikan pandangan-pandangannya terhadap pergeseran gaya di pentas ganda campuran dunia. Wawancara ini dibagi dalam dua bagian. Ini adalah potongan yang pertama.

Pada perempat final All England lawan Wang Yilyu/Huang Dongping, Praveen/Melati sempat bermain ketat pada awal game pertama, lalu akhirnya kalah jauh. Pada game kedua, mereka juga tertinggal jauh 10-18. Walau akhirnya menang, apa yang sebetulnya terjadi sehingga ada situasi ketinggalan jauh seperti itu?

Praveen saat itu memang sempat hilang fokus dan mainnya emosi. Sebenarnya, kita sudah tahu bahwa akan susah melawan mereka. Dan kita sudah tahu, bahwa akan susah cari poin melawan mereka. Mereka sering nyolong poin dari mana kita sudah tahu. Dan kita memang sering kecolongan dari situ.

Saya sering kali ingetin kepada mereka (Praveen/Melati), polanya jangan sampai berubah. Set pertama sudah enak, lalu tiba-tiba berubah sendiri polanya. Nah, saat itu kehilangan empat poin, lima poin, dan langsung ketinggalan jauh.

Padahal di awal-awal, sempat unggul. Lalu sama. Unggul, sama lagi. Set kedua juga begitu, kita sudah ingetin hati-hati servis colongnya. Itu Meli ada kena sampai empat kali. Habis itu goyang. Kita itu sudah prediksi, mereka nyolongnya dari situ. Tetapi anak-anak sempat lupa lagi dan lupa lagi.

Saya bilang, â&;&;Pasangan China akan melakukan servis flick dan menyerang overhead kalianâ&;&;. Saya sering ingetin dan kita sudah sering bahas itu.

Jadi mereka (Wang/Huang) memang mainnya memang bagus, memang rapet. Tetapi yang terjadi, mereka sering manfaatin kita juga. Servis flick mereka masuk terus dan kita jadi emosi. Ya kita langsung ngeblank. Dan itu sudah sering sekali terjadi. Kemarin (di perempat final All England) juga begitu.

Wawancara dengan Juara Dunia 3 Kali dan Pelatih PBSI Nova Widianto (1)
Praveen Jordan mengepalkan tangan setelah mengalahkan Wang Yilyu/Huang Dongping di perempat final All England 2020. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI).

Artinya, karena taktiknya sudah tahu, sebetulnya tidak susah bagi Praveen/Melati untuk mengalahkan Wang/Huang?

Dalam kondisi normal, kalau misalnya Praveen dan Melati tidak panik, sebetulnya mereka (Wang/Huang) itu bukan masalah kok. Nah, contohnya setelah tertinggal 10-18 itu, Praveennya tenang banget dan masih mau usaha. Ya memang ada faktor luck-nya juga sih. Tetapi dari Praveennya masih fokus, masih mau usaha, dan nggak gampang nyerah. Itu bagus sekali.

Ya, memang nggak akan gampang untuk mengalahkan China. Tetapi sebetulnya kita sudah siap dan kita memang harus fokus pada polanya. Juga antisipasi servis flicknya itu. Tetapi kemarin itu kan kita sempat lupa. Terutama Melati tuh. Dia hilang fokus. Waktu diflick sekali, dia sudah nggak siap lagi. Jadi goyang dianya.

Dalam posisi 10-18, saya yakin bahwa semua orang yang menonton sudah pasrah Praveen/Melati bakal kalah. Namun, keyakinan Mas Nova akhirnya tumbuh bahwa Praveen/Melati bisa bangkit dan menang itu dalam momen apa?

Kalau masalah yakin, ya awalnya nggak ada yakin. Wong sudah 18-10, sudah jauh banget. Tetapi waktu saya lihat, kita bisa mencetak empat poin beruntun, Praveen terlihat masih mau usaha, itu poin tersendiri bagi saya.

Kalau Praveen-nya mulai hilang fokus, itu yang bahaya. Kalau Melati (yang hilang fokus) masih bisa ketutup sama Praveen. Saya lihatnya sih begitu. Dalam posisi pembukaan dan menerima servis, saya lihat Praveen masih bisa tenang. Biasanya dalam kondisi tertinggal, waktu Praveen emosi, dia bisa hilang dua poin, tiga poin langsung.

Di sisi lain, momennya juga ada waktu pemain China protes karena mengaggap servisnya masuk pada kondisi 10-18. Itu juga jadi salah satu titik balik ya.

Setelah melewati pertandingan berat dan sedramatis itu di perempat final, harusnya setelah itu sangat yakin menjadi juara ya? Seberapa besar optimisme menghadapi partai final?

Waktu kita lihat finalnya lawan Thailand (Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, Red) saya sih tidak khawatir. Kita optimistis karena dalam tiga pertemuan terakhir, kita nggak pernah kalah melawan mereka. Kita sudah sangat paham benar pola mereka.

Tetapi yang saya khawatirkan itu kan soal mental. Terutama Melati. Karena mereka sering main jelek waktu final. Dia grogi, tegang. Harusnya di final itu kita bisa menang straight.

Kita kehilangan game kedua karena terutama faktor servis (sering difault). Selain itu, memang ada perubahan dalam pola mereka (Dechapol/Sapsiree). Ini yang membuat Praveen menjadi ragu-ragu. Harusnya kita bisa dapat poin dari placing-placing. Nah, di game kedua itu, placingnya Praveen ditungguin. Jadinya memang agak ragu-ragu.

Kita langsung bilang ke Praveen untuk mengubah servisnya. Tetapi, walau sudah diubah, namun ada yang nyangkut dan difault itu.

Pada game ketiga, semua servisnya Praveen pakai gaya baru. Jadi nggak pakai ngayun (mengayunkan tangan, Red), tetapi langsung mukul. Jadi, tidak pernah difault. Pada game ketiga itu, kami sudah mengatasi semua dan Praveen sudah tidak ragu-ragu lagi.

Jadi, intinya, semua itu terjadi karena ada perubahan dari cara servis. Kalau itu nggak masalah, sebetulnya semuanya nggak masalah. Karena memang selama ini kita sudah tahu banget cara main mereka (Thailand) itu kayak gimana.

Memang pada awalnya, Praveen/Melati tertinggal 0-2 dari rekor head-to-head. Setelah itu, kita sudah tidak pernah kalah. Jadi secara pola, istilahnya kita sudah megangbanget dan tidak kesulitan kalau lawan mereka.

Mas Nova pernah mengatakan bahwa Praveen ini sangat berkualitas, berbakat, dan punya kelas. Jadi apa faktor yang bikin Praveen sering tidak konsisten?

Jadi kalau saya lihat itu karakter ya. Jadi, saat ini kita mulai ngubah dikit-dikit faktor karakter itu. Dan mudah-mudahan tidak berubah lagi. Dan kita sudah ketemu jalan keluarnya.

Karakter yang dimaksud itu seperti apa?

Jadi Praveen itu kalau ada kesusahan dikit, dia itu nggak mau maksa. Contoh, selama ini Praveen hampir selalu jelek pada pertandingan pertama. Hampir selalu kalah di babak-babak awal. Dan itu terus-menerus.

Kemarin, waktu di All England, ternyata dia mau maksa. Dari pemanasan, dari latihan. Dari pemanasan, dia mau mulai duluan. Nah, jadi bukan karena dia semata jelek di pertandingan pertama dan kedua. Tetapi karena dia sendiri yang nggak mau maksa. Ternyata kalau dia mau, ya bisa!

Misalnya begini. Kalau datang ke Eropa itu, pada hari pertama jet lag, Mas. Latihan masih nggak enak. Kadang dia nggak ikut tuh,nggak mau maksain, atau melakukan pemanasan yang banyak.

Kalau moodnyanggak enak, dia nggak mau maksain. Dan di All England ini dia mau maksa semua. Dan ternyata bisa gitu lho. Jadi sebenernya bukan karena faktor pertandingan pertama dan kedua. Tetapi karena dari diri dia sendiri. Kalau dia mau maksa, semua bisa diatasin. Semua itu tergantung dianya saja.

Wawancara dengan Juara Dunia 3 Kali dan Pelatih PBSI Nova Widianto (1)
Praveen/Melati bersama ganda campuran Thailand Dechapol/Sapsiree di podium juara All England 2020. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI).

Sekarang soal Melati. Di All England saya melihat secara defense, agresifitas, dan kelincahan dia meningkat. Antisipasi dia di depan juga makin baik. Mas Nova memandangnya seperti apa? Apa memang ada peningkatan atau itu sudah standarnya Melati?

Kalau di depan, Melati memang spesialisnya di depan. Tapi kalau secara defense, dia memang ada peningkatan. Jadi, dalam dua bulan ini, kita geber dia di masalah defense. Jadi tiap hari itu Mas, selalu latihan defense. Jadi dia dismesin sama yang cowok-cowok. Pakai pola latihan 1-3 atau 1-4, 2-3 atau 2-4. Itu dilakukan terus hampir setiap hari. Jadi memang ada peningkatan.

Namun kalau untuk main depannya, dia memang bagusnya di situ. Tinggal kita asah saja. Namun kalau disebut ada peningkatan, ya itu secara defense sama mental dia.

Setelah dia juara tiga kali, mentalnya sudah semakin terbentuk.

Jujur, di final itu awalnya saya khawatir. Di All England itu kan final pertama dia. Tetapi ternyata dia bisa mengatasi itu. Mungkin karena ada faktor dia sudah pernah melewati juara tiga kali kan? Di Denmark, Prancis, sama SEA Games. Dan mentalnya mungkin terbentuk dari situ.

Kesimpulannya, kalau sudah pernah juara, maka mental sudah semakin kuat dan lebih enak mainnya?

Betul dan saya sudah bicara soal ini dengan dia. Melati itu kan sebelumnya sudah tampil di lima kali final dan selalu kalah. Saya bilang, kamu tinggal menunggu waktu saja. Dan kalau sekali lewat (menjadi juara, red), kalian akan lebih gampang. Karena kadang-kadang, faktor final itu bisa menghantui terus.

Maksudnya kalah di final?

Iya, kalah di final. Saya juga sudah sempet bilang, nggak usah takut. Karena sekali kamu tembus, maka kalian akan lebih banyak juaranya dan semua itu akan lebih gampang. Ya karena kalau kalah di final secara beruntun itu kadang bisa menghantui terus, Mas. Itu percaya nggak percaya. Ada pemain yang spesialis finalis. Lalu main di final pasti kalah. Main lagi di final, kalah lagi.

Saya sempat ngobrol dengan Praveen. Kata dia persiapan jelang All England itu memang berbeda, masing-masing pemain didril sendiri-sendiri. Menurut Mas Nova, apa yang membedakan persiapan di All England sehingga kita bisa sukses di sana?

Yang paling pasti itu jangka waktunya. Jadi kami melakukan persiapan panjang. Kalau persiapan jangka panjang, kita bisa banyak melakukan evaluasi. Kalau persiapan antar turnamen kan kita cuma bisa mengasah kekurangan dikit-dikit aja, Mas. Jadi tidak bisa menyeluruh.

Kecuali kalau kita memang sengaja break dulu, kita akan bisa memperbaiki kekurangan yang ada. Di persiapan jangka panjang kita akan bisa melatih kekuatan, defense, dan endurance. Juga yang penting adalah melatih fokus Praveen.

Yang pasti, kita juga diuntungkan karena kita nggak ikut Piala Asia (Badminton Asia Team Championships, Red). Jadi, kita bisa melakukan persiapan lebih panjang lagi. Kalau sektor lain kan banyak kepotong di situ. Kalau kita, persiapannya tidak kepotong. Langsung latihan terus sekitar dua bulanan.

Dalam opini Mas Nova, perbedaan Melati dan Debby Susanto itu apa? Kok Praveen bisa juara All England dengan keduanya?

Perbedaan pasti ada. Tipe permainan juga berbeda. Kalau Debby kan lebih ngotot.Defense dia juga nggak banyak mati. Tetapi semua itu balik lagi ke Praveen. Kuncinya itu ada di Praveen. Seperti yang sudah sering saya bilang, Praveen ini punya skill, dia punya talenta. Dia ditandemkan dengan siapa saja pasti bisa. Nggak semua pemain bisa seperti Praveen.

Kadang-kadang ada yang secara pola bisa main dengan siapa saja. Tetapi kalau dilihat secara karakter, secara individu, secara chemistry, Praveen ini bisa dengan siapa saja. Praveen ini kayak bisa â&;&;membawa orang’. Kalau mixed itu, terutama cowoknya harus bisa ngayomi. Dan dia, harus mampu megang permainan. (bersambung)

COVID-19 Detais Indonesia