Transaksi Suap dari Tommy ke Brigjen Prasetijo di Kawasan Mabes Polri

Transaksi Suap dari Tommy ke Brigjen Prasetijo di Kawasan Mabes Polri

Terbaiknews - Terdakwa kasus suap penghapusan red notice Djoko TjandraBrigjen Pol Prasetijo Utomo (kedua kiri) saat menjalani sidang dakwaan di Pengadilan TipikorJakartaSenin (2/11/2020). Mantan Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Kakorwas) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bareskrim Polri itu didakwa mendapat 150 ribu dolar AS dari Djoko Tjandra untuk mengurus penghapusan nama Djoko Tjandra dari Daftar Pencarian Orang (DPO) Interpol. ((FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

– Supiadi selaku rekan Tommy Sumardi mengaku pernah beberapa kali mengantar rekannya menyerahkan sebuah amplop kepada seseorang yang belakangan diketahui adalah Brigjen Pol Prasetijo Utomo. Menurut Supiadi, amplop itu diserahkan kepada Prasetijo di sekitar gedung Transnational Crime-Center (TNCC) Mabes Polri. Tepatnya dekat restoran Merah Delima.

Mulanya jaksa penuntut umum (JPU) bertanya apa keperluan Tommy di restoran tersebut. Supiadi mengaku mengantar Tommy untuk menemui seseorang.

“Pada saat di Merah Delima itu dalam rangka apa?,” tanya Jaksa.

“Menemui seseorang,” kata Supiadi saat bersaksi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (19/11).

Tak puas atas pernyataan Supiadi, lantas Jaksa mendalami pernyataan tersebut. Supiadi mengaku, pertemuan antara Tommy dengan Prasetijo di dalam mobil.

“Tetap di mobil,” ungkap Supiadi.

  • Irjen Napoleon: Suap Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra Rekayasa

Kendati demikian, Supiadi mengklaim saat itu tidak mengetahui kalau yang ditemui Tommy adalah Brigjen Prasetijo. Menurutnya, polisi jenderal bintang satu itu menemui Tommy dengan mengendarai motor dan memakai jaket.

“Awalnya saya tidak kenal. Laki-laki naik motor pakai jaket,” ujar Supiadi.

Dalam persidangan, Supiadi menyebut saat berada di kawasan restoran Merah Delima, Tommy meminta dirinya untuk menghidupkan lampu jauh mobilnya sebagai tanda. Kemudian Brigjen Prasetijo menghampiri mobil dan menerima sebuah amplop.

“Pak Tommy meminta untuk dim (menyalakan lampu jauh). Terus laki-laki itu datang ke mobil dan saya arahkan ke tempat Pak Tommy duduk di tengah, setelah di buka kaca dan menyerahkan sebuah map warna cokelat. Eh amplop,” pungkas Supiadi.

Dalam perkara ini, pengusaha Tommy Sumardi didakwa menjadi perantara suap terhadap Irjen Napoleon Bonaparte sebesar SGD 200 ribu dan USD 270 ribu, serta kepada Brigjen Prasetijo Utomo senilai USD 150 ribu.

Uang tersebut dari terpidana kasus hak tagih Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra. Suap itu ditujukan agar nama Djoko Tjandra dihapus dalam red notice atau Daftar Pencarian Orang Interpol Polri.

Didakwa melanggar Pasal 13 Undang-Undang R.I. Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang R.I. Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

COVID-19 Detais Indonesia