Siapa Hendak Kudeta AHY?

Siapa Hendak Kudeta AHY?

Terbaiknews - BOCORNYApertemuan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko dengan sejumlah kader aktif dan eks kader...

BOCORNYApertemuan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko dengan sejumlah kader aktif dan eks kader Partai Demokrat membuat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai ketua umum partai tersebut gusar. Kabarnya, pertemuan di Hotel Aston lantai 28 pada 27 Januari lalu itu turut menyimpulkan bahwa akan terjadi kudeta di partai berlambang bintang Mercy tersebut. AHY langsung bergerak cepat dengan mengirim surat ke istana. Yang intinya adalah meminta klarifikasi.

Dalam konteks kepemimpinan partai, langkah AHY bisa dibaca sebagai bagian melindungi partai dari berbagai ancaman dari luar. Dengan pernyataan itu diharapkan mampu terbongkar seluruh suara senyap yang menggelinding dari pusat hingga daerah. Namun, yang menjadi perbincangan di media sosial akhir-akhir ini bukan lagi substansi siapa yang akan melakukan kudeta. Perbincangan tersebut telah bergeser pada luar substansi, yakni langkah AHY yang mengirim surat ke istana.

Langkah AHY itu mendapat kritik dari banyak pihak, terutama Moeldoko. Menurut jenderal TNI purnawirawan tersebut, pemerintah (baca: presiden) sedang sibuk menuntaskan banyak persoalan, khususnya pandemi Covid-19, jadi jangan diganggu. Moeldoko juga menerangkan bahwa pemerintah tidak memikirkan masalah kudeta di internal Demokrat. Lebih lanjut, dia menilai Ketua Umum Demokrat AHY semestinya tidak perlu takut, apalagi sampai mengembuskan isu akan adanya upaya pengambilalihan kekuasaan di Demokrat. Sebab, AHY terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi. Namun, pertanyaannya sekarang, mengapa isu kudeta menyerang Demokrat?

Ada dua hal yang bisa menjadi pisau analisis pertanyaan tersebut. Pertama, mengindikasikan kepemimpinan AHY yang relatif lemah jika dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya. Hal itu bisa dilacak dari lemahnya cara berkomunikasi dengan tokoh-tokoh senior Demokrat yang kecewa. Kedua, sebagai ketua umum paling muda, posisi AHY dianggap belum matang dalam memimpin partai. AHY masih terbilang hijau di dunia politik dan belum pernah memiliki jabatan publik sebelum akhirnya menjabat ketua umum partai. Kurangnya pengalaman itu bisa jadi berpengaruh terhadap kemampuan AHY mengelola konflik di internal partai.

Keuntungan AHY?

Terlepas dari berbagai persoalan yang saat ini dihadapi Demokrat, isu kudeta bisa jadi bagian dari awal pertempuran politik sesungguhnya bagi AHY. Kedudukannya sebagai ketua umum mulai diuji dengan berbagai persoalan politik di internal dan eksternal.

Di lingkaran internal, isu kudeta merupakan hal yang kecil dibandingkan dengan berbagai problem yang menghantui partai tersebut sejak didirikan hingga kini. Persoalan korupsi yang pernah menyeret sejumlah kader Demokrat hingga mengakibatkan partai itu jatuh dalam beberapa pemilu menjadi salah satu tesis bagaimana problem Demokrat cukup pelik dan rumit.

Namun, dalam konteks kepemimpinan AHY, isu kudeta ibarat sebuah persoalan yang sangat serius di internal partai. Hal tersebut bisa dibaca dengan respons yang langsung menyerang jantung pertahanan pemerintah dengan mengirim surat kepada Presiden Jokowi terkait Moeldoko. Bagi AHY, tentu bukan hal sederhana berhadapan dengan Moeldoko yang kaya pengalaman. Antara lain pernah menjabat panglima TNI dan saat ini menduduki kursi KSP. Banyak risiko yang harus diperhitungkan sebelum meniupkan isu kudeta.

Selain itu, isu kudeta tersebut –yang hanya melibatkan orang internal, kemudian melebar ke eksternal partai– mengindikasikan bahwa persoalan di lingkaran Demokrat sangat genting. AHY sebagai ketua umum tentu sudah menghitung risiko dan keuntungan secara politik. Sebab, jika salah langkah, yang terjadi justru kemunduran dari partai itu sendiri.

Bahkan, bukan tidak mungkin Demokrat akan mengikuti jejak partai yang sebelumnya mengalami persoalan di internalnya, yakni dualisme kepemimpinan. Karena itu, jika AHY mampu melewati isu kudeta yang konon melibatkan eks Demokrat dan istana, hal tersebut akan memantik soliditas di internal partai. Publik juga akan menilai AHY mampu mengonsolidasikan Demokrat.

Bagi AHY yang dipilih secara aklamasi sebagai ketua umum, kudeta merupakan langkah ilegal untuk menurunkan jabatannya. Karena itu, respons AHY dapat dimaknai sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri untuk melindungi Demokrat dan jajarannya dari pengambilan paksa. Sedangkan dalam konteks politik, upaya AHY mengirim surat ke istana merupakan upaya untuk memperoleh perhatian presiden. Sebab, jika tidak, isu kudeta tersebut akan menggelembung menjadi lebih besar. Kalaupun kudeta itu nanti diniatkan untuk membuat Demokrat lebih besar, justru yang terjadi adalah kehancuran partai.

Anas Urbaningrum Ingin Gantikan AHY dengan Moeldoko, Ini Kata Pasek

Belajar dari beberapa partai yang kisruh dan bahkan terjadi dualisme kepengurusan, itu didasari tidak responsifnya penanganan persoalan di internal partai. Selain itu, tidak sedikit tokoh partai yang merasa memiliki partai karena sudah mengorbankan banyak uang. Dalam konteks ini, pengorbanan terhadap partai dititikberatkan pada saham politik, di mana keuntungan secara politik menjadi entitas tunggal. Karena itu, tidak jarang kehidupan partai politik sering dibumbui persoalan sepele seperti perebutan kursi kekuasaan. Saking banyaknya pemegang saham, setiap musyawarah nasional (munas) berujung kisruh. Kader yang terpental lalu membuat partai baru.

Singkatnya, isu kudeta politik akan terus menjadi bola liar bagi Demokrat. Kepemimpinan AHY akan terus diuji dengan berbagai isu yang berpotensi memecah belah partai. Jika AHY mampu mengelola isu tersebut dengan baik, hal baik yang akan dipetik adalah soliditas kader Demokrat di pusat sampai ke daerah. Ini juga menjadi alarm bagi siapa pun bahwa kader Demokrat sepenuh hati mendukung AHY.

Sebaliknya, jika AHY tidak mampu mengelola konflik partai dengan baik, ini akan menjadi awal kemunduran Demokrat di bawah AHY. Ini juga akan menjadi pelajaran berharga bagi AHY bahwa memimpin partai politik penuh dengan duri.(*)


*) Aminuddin, Pemerhati Politik dan Demokrasi, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Saksikan video menarik berikut ini: