Psikolog: Jangan Karena Politik, Cyberbullying Pada Anak Dihalalkan

Psikolog: Jangan Karena Politik, Cyberbullying Pada Anak Dihalalkan

Terbaiknews - Ilustrasi. Seorang gadis yang bersedih karena jadi korban Cyberbullying di media sosial. (dok. pixabay)

– Perundungan atau cyberbullying melalui media sosial yang dialami Almira Tunggadewi Yudhoyono, putri dari Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menarik perhatian banyak kalangan. Salah satunya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

KPAI secara tegas lansgung meminta para netizen untuk menghentikan merundung cucu mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. Pasalnya, hal itu bisa mengganggu bahkan membahayakan tumbuh kembang sang anak.

Merespons hal itu, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Sani Budiantini Hermawan mengatakan, psikologi anak dalam mengungkapkan apa yang ada di pikirannya itu mengandung dua hal. Yakni, kepolosan dan kejujuran. Jauh dari unsur-unsur manipulatif, apalagi rekayasa. Karena itu, justru orang dewasalah yang harus bijak menempatkan diri dalam melihat atau bersikap terhadap kreativitas ide-ide yang disampaikan anak tersebut.

Psikolog: Jangan Karena Politik, Cyberbullying Pada Anak Dihalalkan
Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Sani Budiantini Hermawan mengatakan, apa pun alasanya perundungan pada anak sangat tidak dibenarkan dan dilarang keras. (instagram Sani Budiantini Hermawan)

â&;&;Dalam kasus Aira, jangan karena kebetulan ayahnya adalah ketua umum partai politik, lantas segala hal yang ditampilkan ke hadapan publik dipandang berhubungan langsung dengan aktivitas orang tuanya. Sangat tidak bijak apabila ada orang dewasa yang menyikapi demikian,â&;&; ujar psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia tersebut, Selasa (5/5).

Seperti diberitakan, pada Sabtu (2/5) lalu, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Almira mendapat tugas dari sekolah untuk membuat pidato berbahasa Inggris terkait usulan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sang ayah, AHY kemudian mengunggah naskah pidato putrinya melalui akun media sosial.

Namun unggahan tersebut menuai berbagai tanggapan karena diangkat menjadi bahan pemberitaan oleh media.

Ibunda Almira, Annisa Pohan, menduga bahwa putrinya yang masih di bawah umur telah menjadi korban olok-olokan politik dari salah satu akun media sosial @Dennysiregar7 di twitter. Sebagai seorang ibu, Annisa berusaha melaporkan hal tersebut kepada Presiden Joko Widodo dan KPAI terkait olok-olokan tersebut melalui akun media sosialnya.

Lebih lanjut, Sani mengatakan, ruang media sosial yang menjadi aktivitas keseharian masyarakat pada saat ini, harusnya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dengan cara baik dan beretika. Khususnya untuk hal-hal yang terkait dengan anak.

Jangan sampai komentar-komentar yang ada hubungannya dengan aktivitas anak justru dimanipulasi untuk kepentingan tertentu dari orang dewasa yang memanfaatkannya. Artinya, sangat tidak patut jika anak tersebut dijadikan objek untuk memuaskan ambisi tertentu.

â&;&;Akan muncul rasa insecure, tidak aman, tidak nyaman dan akhirnya muncul rasa tidak percaya diri bagi anak. Hal ini sangat berbahaya karena dapat merampas ide-ide yang harusnya muncul dengan cerdas, genuine dan hebat justru tidak terjadi. Ide-ide yang muncul dari seorang anak, apalagi jika sudah sampai di ruang publik, harusnya dilindungi dan diberikan apresiasi. Bukan malah dibully dan dikait-kaitkan dengan aktivitas orang tuanya,â&;&; tegasnya.

Untuk itu, lanjut Sani, jangan karena perbedaan pilihan politik atau karena ingin melindungi kepentingan politiknya, lantas dengan segala cara termasuk melakukan perundungan kepada seorang anak menjadi dihalalkan.

“Itu jelas-jelas sangat tidak bijak, tidak etis dan berbahaya. Jangan karena urusan politik, cyberbullying pada anak dihalalkan” pungkasnya.

Saksikan video menarik berikut ini: