Penelitian: Metformin Kurangi Efek Parah Covid-19 pada Pasien Diabetes

Penelitian: Metformin Kurangi Efek Parah Covid-19 pada Pasien Diabetes

Terbaiknews - ILUSTRASI. Penelitian terbaru menemukanpasien diabetes yang rutin mengonsumsi metformin dikatakan memiliki tingkat keparahan lebih kecil jika terinfeksi Covid-19. (pixabay)

– Pasien diabetes biasanya diberikan obat metformin untuk memgendalikan gula darahnya. Penelitian terbaru menemukan, pasien diabetes yang rutin mengonsumsi metformin dikatakan memiliki risiko keparahan lebih kecil jika terinfeksi Covid-19.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa diabetes adalah kondisi yang rentan tertular virus Korona. Tim dari Universitas Alabama di Birmingham (UAB) mengatakan,mereka telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa obat diabetes tipe 2 yakni metformin berpotensi menawarkan tingkat perlindungan dari kematian akibat virus pembunuh itu.

“Efek menguntungkan ini tetap ada, bahkan setelah mengoreksi usia, jenis kelamin, ras, obesitas, dan hipertensi atau penyakit ginjal kronis dan gagal jantung,” kata Penulis utama studi Dr Anath Shalev, direktur Pusat Diabetes Komprehensif UAB, dilansir dari diabetes.co.uk, Jumat (5/2).

1 dari 10 Pasien Covid-19 Tak Sadar Ternyata Sudah Idap Diabetes

Hasil serupa telah diperoleh pada populasi yang berbeda dari seluruh dunia, termasuk Tiongkok, Prancis dan analisis United Healthcare. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan risiko kematian yang diamati terkait dengan penggunaan metformin pada subjek dengan diabetes tipe 2 dan Covid-19.

Terlepas dari temuan itu, para peneliti masih belum yakin mengapa metformin meningkatkan prognosis virus Korona. Menurut dr. Shalev, hal itu mungkin ada hubungannya dengan efek anti-inflamasi dan anti-trombotik yang dijelaskan sebelumnya dari obat tersebut.

“Hasil ini menunjukkan bahwa, sementara diabetes adalah faktor risiko untuk kematian terkait Covid-19, risiko ini secara dramatis berkurang pada subjek yang memakai metformin, meningkatkan kemungkinan bahwa metformin dapat memberikan pendekatan perlindungan pada populasi berisiko tinggi ini,” tegasnya.

Penemuan ini pertama kali diterbitkan di MedRxiv. Sekarang telah dimuat di jurnal peer-review Frontiers in Endocrinology.

Saksikan video menarik berikut ini: