[HOAKS] 7 Kebiasaan yang Merusak Otak Diklaim dari WHO

[HOAKS] 7 Kebiasaan yang Merusak Otak Diklaim dari WHO

Terbaiknews - hoaks!Berdasarkan verifikasi Kompas.com sejauh iniinformasi ini tidak benar.KOMPAS.com - Di media...
[HOAKS] 7 Kebiasaan yang Merusak Otak Diklaim dari WHO

hoaks!

Berdasarkan verifikasi Kompas.com sejauh ini, informasi ini tidak benar.

KOMPAS.com - Di media sosial beredar informasi mengenai tujuh kebiasaan yang merusak otak yang diklaim berasal dari World Health Organization (WHO).

Kebiasan-kebiasan itu antara lain tidak sarapan, tidur larut malam, dan makan saat menonton televisi atau menatap komputer.

WHO menegaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan informasi tersebut. Tujuh kebiasaan tersebut pun tidak terbukti dapat merusak otak.

Narasi yang Beredar

Sejumlah akun Facebook mengunggah narasi mengenai tujuh kebiasaan yang merusak otak. Narasi itu diklaim berasal dari badan kesehatan dunia WHO.

Salah satu akun penyebar narasi tersebut yakni Dr-Shafiq Miyazi. Pada 1 Oktober 2020 dia menulis status berisi tujuh kebiasaan merusak otak. Tertulis juga World Health Organization di akhir rincian kebiasaan yang dimuat dalam statusnya.

Tujuh kebiasaan itu yakni tidak sarapan, tidur larut malam, konsumsi tinggi gula, dan banyak tidur ketika pagi hari.

Lainnya, makan saat menonton televisi atau komputer, memakai topi, syal, atau kaus kaki saat tidur, dan terbiasa menahan buang air kecil.

Berikut isi statusnya:

"Seven (7) Biggest brain damaging habits:
1. Missing breakfast
2. Sleeping late
3. High sugar consumption
4. More sleeping specially at morning
5. Eating meal while watching TV/ Computure/ Mobile
6. Wearing cap, scrap or shocks while sleeping
7. Habit of blocking/ stoping urine
Don't just read forward to whome you care as I care for u.
World Health Organization"

[HOAKS] 7 Kebiasaan yang Merusak Otak Diklaim dari WHOFacebook Status Facebook soal 7 kebiasaan yang bisa merusak otak, diklaim berasal dari WHO.

Akun Facebook Hussen Rafi Ambia dan Saifur Rahman Faysal juga menulis status yang sama pada awal Oktober 2020.

COVID-19 Detais Indonesia