Clayton Oliver Wibowo, Langganan Raih Emas di Kompetisi Internasional

Clayton Oliver Wibowo, Langganan Raih Emas di Kompetisi Internasional

Terbaiknews - BERPRESTASI: Clayton menunjukkan penghargaan yang diraih dalam kompetisi Vanda di Malaysia. (Lita for Jawa Pos)

Minat membaca dan keingintahuan yang tinggi membawa Clayton Oliver Wibowo meraih banyak medali dalam kompetisi internasional. Hal tersebut tidak terlepas dari kebiasaan membaca dua buku dalam waktu sehari. Tidak hanya itu, bocah kelas VI sekolah dasar (SD) tersebut kini sedang menggarap sebuah novel fiksi pertamanya.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

CLAYTONOliver Wibowo bukanlah bocah biasa. Prestasinya banyak. Berbagai medali dan piagam penghargaan diperoleh pada usia yang sangat belia. Berbagai kompetisi sains internasional diikuti dengan raihan prestasi yang gemilang.

Memang apa yang diraih saat ini bukan sesuatu yang mudah. Ketertarikan terhadap sains tampak sejak dia kecil. Bahkan, hobi membacanya sudah tumbuh saat balita.

Kegemaran membaca itulah yang menjadikan Clayton begitu tergila-gila pada buku. Satu lemari penuh koleksi miliknya. ’’Lemari itu isinya buku dia semua. Yang lain tidak kebagian,’’ ujar Lita Damayanti, ibunda Clayton.

Saat kelas III, Clayton sudah menuntaskan buku Harry Potter. Memang sejak kecil Lita terbiasa membacakan buku. Membiarkannya berinteraksi dengan buku, bebas membolak-balik halaman yang dia suka.

Sederet penulis ternama menjadi favoritnya. Mulai J.K. Rowling dengan karya Harry Potter-nya hingga David Walliams yang terkenal dengan buku fantasinya. Belum lagi buku ilmu pengetahuan seperti National Geographic dan lainnya. Buku-buku itu layaknya jajanan sehari-hari bagi Clayton.

Kebiasaan tersebut tetap bertahan hingga sekarang. Bahkan, menjadi-jadi. Terutama buku sains. ’’Paling suka dengan biologi, tentang hewan. Dari sana bisa belajar banyak,’’ ujar siswa Xin Zhong Primary School itu.

Dalam sehari Clayton sudah terbiasa membaca dua buku. Belum termasuk bacaan lain seperti website science dan history. Juga berbagai berita dari dalam negeri dan mancanegara. Dari situlah pengetahuan dan bakat Clayton mulai tercium. Menginjak kelas II, guru sains Clayton Agustina Prasetya menyarankan Clayton ikut kompetisi. ’’Saat itu, ikut Japan International Science and Math Olympiads (JISMO). Dia di kelas sangat aktif menjawab pertanyaan. Bahkan, lebih dari materi yang ada di kelas,’’ jelasnya.

Prestasi gemilang diraih. Clayton mendapat medali diamond. Dia berhasil menyingkirkan siswa lain dari berbagai negara. Misalnya, Jepang, Malaysia, Filipina, hingga Thailand. Momen tersebut menjadi awal mula Clayton rajin ikut kompetisi. Hingga sekarang bocah yang hobi traveling itu tidak pernah absen dari berbagai perlombaan. ’’Sekarang sudah ada 24 medali, mayoritas dari kompetisi internasional,’’ cerita Clayton.

Banyaknya kompetisi yang diikuti tentu meninggalkan kenangan yang berkesan baginya. Misalnya, saat mengikuti kompetisi Vanda di Malaysia.

Lomba di University of Malaya itu mengumpulkan anak-anak, mulai dari Iran hingga Amerika. ’’Dia seperti menemukan anak-anak yang minatnya sama. Suka dengan sains,’’ kata Lita.

Masa pandemi ini juga memberikan pengalaman berbeda bagi Clayton. Dia ikut serta dalam Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary and Secondary Schools (ASMOPSS). Dis berhasil masuk putaran final.

Dimulai dengan seleksi sejak September 2020. Kemudian, terpilihlah delapan anak yang mewakili Indonesia. Mereka harus menyelesaikan soal, mulai pilihan ganda, esai, hingga kerja tim.

Kompetisi itu sepenuhnya digelar secara online. Sesuatu yang baru baginya. ’’Saat mengerjakan soal, ada kamera yang mengawasi. Baru boleh mati saat lomba selesai,’’ ujar bocah 12 tahun itu.

Usaha memang tidak membohongi hasil. Clayton berhasil meraih medali emas di ajang tersebut. Peserta final berasal dari lima negara.

Tidak mau menyimpan sendiri ilmu yang dimiliki, Clayton beberapa kali juga diminta menjadi tutor untuk teman-temannya. Bahkan, tidak sedikit yang ketagihan dan meminta Clayton mengajar lagi dan lagi.

Meski segudang prestasi sudah diraih, masa saat putus asa juga pernah dirasakan. Misalnya, saat masih berusia 10 tahun. Clayton gagal maju ke final ASMPOSS. ’’Saat itu karantina tiga hari dan tidak ada yang dia kenal. Saya hanya bisa memotivasi bahwa ada saatnya kegagalan di masa hidup. Namun, yang terpenting tidak boleh patah semangat,’’ kenang Lita.

Memang Clayton memiliki segudang cita-cita yang ingin diwujudkan. Dia berkeinginan untuk menjadi seorang profesor sekaligus peraih Nobel Prize. Juga masuk ke salah satu ivy league schools. Dia sadar hal itu tidak bisa diraih dengan cara mudah.

Dokter di Inggris Sebut Pilek dan Hidung Meler jadi Gejala Covid-19

Soal belajar, Lita betul-betul menjaga agar Clayton tidak memforsir dirinya. Ada waktu yang betul-betul digunakan untuk istirahat. Misalnya, saat selesai makan malam, waktu dihabiskan bersama keluarga. Baik nonton TV maupun film.

’’Dia sudah terbiasa menyelesaikan PR saat selesai sekolah. Setelah itu bebas. Kemudian, saat ada lomba, belajar hanya dibatasi sampai sebelum makan malam,’’ kata Lita.

Kini Clayton sedang mewujudkan salah satu mimpinya. Yakni, menulis sebuah novel fiksi. Ide itu terus dia kembangkan hingga nanti bisa dicetak. ’’Tahun depan saya selesaikan novel pertama saya,’’ ujarnya.

Saksikan video menarik berikut ini: